Arogansi Pengendara Motor Besar

Tulisan ini mungkin menggambarkan puncak kejengkelanku pada klub pengendara motor besar “HD”. Entah bagaimana logikanya mereka bisa sekenaknya menguasai jalan raya yang harusnya milik umum. Kejadian pertama ketika aku ada acara di Jakarta dengan jadwal penerbangan pertama (pagi) dari Semarang. Kebetulan jl Ahmad Yani menuju bandara lumayan padat, dan disaat padat itulah tiba-tiba terdengan sirine motor patwal dan pengendara lain diminta Pak Polisi untuk menepi, aku pikir Pak Gubenur atau Pak Walikota atau ambulance yang akan lewat, maka aku memaklumi saja karena pejabat banyak urusaanya ataupun ambulance perlu dikawal karena emergency. Tetapi dugaanku ternyata melesat….ternyata yang lewat hanyalah 5 buah motor “HD”. Dengan wajah angkuhnya mereka seolah yang memiliki jalan dimana pengguna yang lain harus minggir. Dan yang bikin aku harus menghela nafas dalam-dalam ketika didepanku ada becak penuh muatan yang dikayuh oleh Pak Tua yang usianya sekitar 50 an tahun. Sebenarnya dia sudah agak menepi tetapi karena muatanya cukup banyak dan padat, dia susah mengatur becaknya benar-benar menepi. Sebenarnya untuk lewat “sang juragan HD” sudah cukup walaupun begitu ada diantara pembonceng pengendara “HD” tersebut membentak keras agar Pak Becak minggir ke tepi lagi. Entah ada otaknya or gak pikirku terhadap si pengendara “HD” tersebut. Continue reading