Negeri Nyaman bagi Koruptor

Negeriku Indonesia sangat kaya akan SDA, itu harus diakui mulai dari Aceh sampai dengan Irian yang menjadi pusat eksplorasi Freeport untuk dipersembahkan ke USA. Bandingkan saja dengan negara lain misal Jepang yang hampir 70 % dari wilayahnya merupakan daerah perbukitan. Tapi dibalik terbatasnya SDA yang dimilili, ternyata sebagian besar logam yang dipakai untuk membangun gedung-gedung, jalan tol, jembatan dan lain-lainnya berasal dari Indonesia, justru pembangunan negara Indonesia seperti yang gak ada kemajuan. Continue reading

DPR yang tidak mau belajar

Semakin lama memang semakin jengah dan muak juga dengan tingkah polah anggota DPR yang katanya “wakil rakyat” tetapi justru tidak mencerminkan sikap wakil rakyat sejati. Enek rasanya bila menengok prgram-program yang digulirkan dari “Studi Banding ke Nagera lain, Rumah Asprirasi, Pembangunan Gedung Baru DPR“, dan masih banyak yang lainnya. Baru-baru ini dibuat geleng-geleng oleh tingkah polah anggota DPR atas “Studi Banding DPR ke Autralia”. Wajar saja Gur Dur menyebut dengan “Taman Kanak-kanak“.

Secara personal, memang kenal baik dengan Pak Kadir Karding. Pertemuan terakhir saat sama-sama menjadi panitia acara nikahnya adik ipar. Tak diragukan lagi skill komunikasinya karena beliau pernah mengkomandoi senat mahasiswa Undip serta menahkodai PMII dan beberapa oraganisasi lainnya. Boleh dikatakan, beliau termasuk tokoh muda yang dekat dengan tokoh-tokoh pembesar NU, termasuk kyai-kyai besar NU. Nasib apes sebenarnya pernah dialami ketika didepak dari Wakil Ketua DPW PKB Jateng pada saat terjadi ontran-ontran pecahnya PKB versi Gusdur dan Muhaimin. Tapi akhirnya nasib baik masih menghampirinya sampai membawanya ke Senayan. Yang saya sesalkan kenapa begitu menjadi Ketua Komisi VIII DPR kok sikap kritisnya pada saat dulu didengungkan mulai luntur, sekali lagi dunia politik memang tidak ada hitam dan putih semua serba “abu-abu“. Selain itu pernyataan telecoference secara teknis susah bikin ketawa…emang sekarang masih jaman batu apa…anak kecil aja udah tahu skype, YM, Webinar, Teamviewer dan masih banyak lainnya. Continue reading

Alangkah Lucunya Negeri Ini

Memang benar-benar cocok judul film karya Dedy Mizwar “Alangkah Lucunya Negeri Ini” ditempelkan kepada negeriku kali ini. Mulai dari bencana alam banjir di Wasior yang kurang mendapat response pemerintah dan hanya menggelontorkan dana 2 M. Apakah rakyat yang kena bencana di Wasior ini bukan bagian dari warga NKRI? Saya yakin bila warga Wasior pingin lepas dr NKRI, pasti para pejabat di Jakarta akan kebakaran jenggot karena pundi-pundi kekayaan alam dari Irian akan berhenti. Walaupun terlambat, akhirnya “sang biduan” yang telah menghasilkan beberapa album akan mengunjungi Wasior juga dan yang menggelikan justru persiapan penyambutanya mengalahkan penanganan para korban pengungsi itu sendiri. Capek….deh…..
Continue reading

Wajah Hukum Indonesia

Kapan wajah penegakan hukum di Indonesia benar-benar memberikan nilai rasa keadilan bagi seluruh WNI? Seharusnya para penegak hukum (Polisi, Jaksa dan Hakim) bahkan presiden harusnya bisa belajar dari negara Cina. Begitu cepat negara Cina belajar atas kesalahan masa lalu atas pelaksanaan nilai-nilai keadilan dan segera memperbaikinya, tetapi mengapa negara kita tercinta tidak mau belajar melihat negara lain yang begitu baik melaksanakan proses hukum.
Continue reading

Oh President Indonesiaku Pak “eSBeYe” (2)

Kalau saya tidak salah, program “100 hari” pertama kali didengungkan oleh President Roosevelt (saya bukan ahli politik dan sejarah) dan saat ini menjadi trend baik dari Pak Kades, Pak Bupati, Pak Gubernur maupunpun Pak President yang baru terpilih. Apa yang terjadi dengan “Program 100 harinya Kabinet Pak “eSBeYe” jilid II? Saya yakin banyak rakyat Indonesia yang tidak tahu walaupun Pak “eSBeYe” dan para pembantunya mengklim 90 % berhasil. Oleh karena itu hari ini tgl 28 Januari 2010 adalah hari selesainya program 100 hari kabinetnya banyak terjadi demo di berbagai kota di Indonesia atas kinerja beliau bersama kabinetnya di 100 hari memimpin negeri Indonesia. Kalau boleh berpendapat, permasalahannya adalah :
1. Pelaksanaan programnya 100 hari tidak mendasar pada perubahan kebijakan yang significant, misalnya masalah TKI, korupsi dll. Seolah-oleh semuanya sudah okey sehingga para pembantu (menteri) sibuk sendiri tetapi sepertinya tidak memiliki dasar teknis pelaksanaan yang jelas. Contoh jelas kasus kamar VIP “Mpok Ayin”, dimana salah satu dirjennya adem-ayem tidak kena tindakan yang jelas-jelas tahu dan statementnya malah memilukan perasaan orang kecil. Continue reading

Oh President Indonesiaku Pak “eSBeYe”(1)

Tak bisa terbayangkan alangkah sialnya negeriku Indonesia hari ini tgl 28 Januari 2010 bila peristiwa ditahun 1998 atas penggulingan kekuasaan “Orba/Pemerintah Mbah Suharto” terulang lagi pada pemerintahaan saat ini. Haparanku, hal diatas jangan sampai terjadi karena rakyat kecillah kembali yang akan menanggung beban beratnya mencari makan. Ini bukannya kecemasan yang mengada-ada tetapi atas dasar kondisi dan berita yang saya baca hari ini.

Pak “eSBeYe” Presiden kelima RI ini diakui atau tidak, dari penanmpilannya memang gagah, trendy dan necis. Bisa dibayangkan pada saat muda pasti banyak “none-none, mbak-mbak” yang akan “klepek-klepek” begitu dekat dengan beliau. Didukung lagi yang lulusan terbaik Akabri, maka sangat mudah untuk mencari pasanagn hidup dan pasti banyak pejabat TNI pada waktu itu yang mengajukan proposal putrinya untuk dijadikan istri.

Setelah era reformasi, pada thn 2004, Pak “eSBeYe” berhasil terpilih sbg presiden atas rivalnya Bu “MeGawati” dengan cara pemilihan langsung rakyat Indonesia. Pada masa pemerintahan dibawah kendali Pak “eSBeYe” bersama Pak “JeKa”, banyak terobosan mengarah perbaikan , antara lain maslah korupsi, perdamaian dll. Tapi sayang, duet bagus ini harus pecah kongsi di pemilu presiden untuk thn 2009-2014. Continue reading

Kapan Ada Evaluasi Biaya Pemilu???

Gila bener ketika malam ini aku baca berita di detik.com yang berjudul : “Bawaslu Minta Tambahan Biaya Operasional 952 Milyar”. Kalau yang tertarik bisa baca di link berikut : detiknews.

Entah saya yang tidak tahu tetang kekayaan Indonesia atau memang para pengelola negara yang sangat pandai mengelola keuangan Negara? Yang saya tahu saat ini biaya pemilu legislative dan pilres tahun 2009 ini adalah sekitar Rp. 13,5 trilyun, untuk pilpres sendiri sekitar 4 trilyun …itu saja kalau pelaksanaan pilpres berlangsung satu putaran. Ya sah…sah saja biaya pilpres mau lebih 4 trilyun atau 10 trilyun…tapi apakah dengan biaya tersebut lebih banyak manfaatnya???
iria Continue reading