Kepercayaan sebagai Modal Berwiraswasta

Negara Indonesia sebenarnya merupakan negara yang kaya, kaya akan SDA maupun SDM…lihat saja jumlah penduduknya sekarang yang telah berada di posisi 4 dunia setelah berada dibawah China, India dan Amerika. Bila Kita telisik lebih dalam lagi ternyata pada tahun 2008 sendiri Indonesia memiliki 112 juta angkatan kerja dimana 19 juta sendiri belum memiliki pekerjaan alias “pengangguran“. Dan yang lebih spesifik lagi, menurut data Dikti, ternyata negara kita memiliki sekitar 1,9 juta mahasiswa dari perguruan tinggi (PT) yang benar-benar jelas statusnya maupun perguruan tinggi cap “ruko“, bandingkan saja dengan jumlah mahasiswa negara lain misalnya Amerika 14,3 juta, India 6 juta dan Jepang 4 juta. Sayangnya jumlah SDM yang begitu besar justru tidak terolah dengan baik untuk menghasilkan output yang maksimal.

Mencari pekerjaan setelah lulus dari bangku kuliah masih menjadi prioritas saat ini, tetapi harus dimengerti atas membludaknya lulusan PT “pengangguran terpelajar” jelas lapangan kerja tidak bisa menampung. Untuk itu wiraswasta merupakan dan seharusnya menjadi prioritas utama. Seribu alasan menjadi penghalang untuk berwiraswasta dari masalah modal, skill/kemampuan sampai dengan jaringan/network. Saya akan mencoba membahas tentang modal berwiraswasta yang tidak selalu berhubungan linier dengan “uang” tetapi justru kemampuan diri sendiri sebagai “modal utama” untuk memperoleh “trust/kepercayaan” sehingga bisa mendatangkan “uang untuk berwiraswasta“.

Karena saya sendiri dilahirkan dari ortu yang tidak banyak uang atau tidak “kaya” tetapi hanya kaya mengajarkan falsafah hidup, maka dari sejak kecil mereka mendidik dan menanamkan jiwa disiplin dan tanggungjawab. Dan alhamdulilah kedua ortuku sangat percaya penuh kepadaku. Nah…trust atau kepercayaan ini yang saya jaga sampai dengan saat ini. Menurut buku yang pernah aku baca, definisi “trust/kepercayaan” dalam konteks busines to business marketing, Anderson dan Narus menyampaikan bahwa “Trust as a belief that another company will perform actions that will result in positive outcomes for the firm while not taking actions that would result in negative outcomes” atau bisa saya artikan “kepercayaan merupakan keyakinan suatu perusahaan terhadap perusahaan lainnya bahwa perusahaan lain tersebut akan memberikan outcome yang positif bagi perusahaan“. Sedangkan dalam hubungan secara individu, menurut buku karya Moorman mengemukakan definisi tentang kepercayaan yang tidak jauh berbeda dengan definisi sebelumnya hanya menjelaskan adanya “pernyataan antara kedua belah pihak yang terlibat dalam suatu hubungan, salah satu pihak dianggap berperan sebagai controlling assets (memiliki sumber-sumber, pengetahuan) sementara pihak lainnya menilai bahwa berbagi penggunaan sumber-sumber tersebut dalam suatu ikatan akan memberikan manfaat, keyakinan pihak yang satu terhadap pihak yang lain akan menimbulkan perilaku interaktif yang akan memperkuat hubungan dan membantu mempertahankan hubungan tersebut, perilaku tersebut akan meningkatkan lamanya hubungan dengan memperkuat komitmen di dalam hubungan“.

Tentunya sebelum mendapatkan “modal kepercayaan“, maka “skill/kemampuan” merupakan faktor dominan dalam berwiraswata. Dengan kemampuan yang kita miliki, kita bisa membuat rancangan dan analisis (cash flow) usaha yang detail akan dikembangkan, sehingga mitra sebagai pemodal “pemilik uang” akan mempelajari dan bergabung bila usaha yang akan kita kembangkan prospektif. Nah, tentunya bila kepercayaan mitra usaha sudah digenggam, kepercayaan ini harus dijaga jangan sampai dirusak karena etika berwiraswata/berteman bila kepercayaan sudah kita rusak, maka nama kita akan rusak di jaringan sehingga akan menghambat gerak maju ke depan.

Alhamdulilah bertambah satu lagi kepercayaan dari mitraku dari Jepang, beliau yang selama ini mempunyai usaha di bidang automotive dan property bersedia bergabung sebagai investor usaha yang sedang aku kembangkan. Dan nilainya lumayan cukup besar untuk uji coba investasi yang pertama kali antara dia dan saya. Walaupun saya seusia anaknya yang paling kecil, bila bicara tentang prospek usaha yang akan datang, beliau tidak pernah sedikitku meremehkanku dan harus saya akui diantara investor yang pernah menjadi mitraku…beliau ini yang paling teliti. Semoga kepercayaan yang beliau berikan bisa aku balas dengan bukti nyata. Dan di malam minggu kemarin bertempat di “Nishimura Cafe” telah kerjadi tanda tangan kerjasama sebagai awal mulainya kerjasama. Pada akhirnya, “kepercayaan akan menjadi komponen yang bernilai untuk menciptakan hubungan yang sukses“. Kepercayaan tersebut juga mengurangsi risiko dalam bermitra dan membangun hubungan jangka panjang serta meningkatkan komitmen dalam berhubungan.


Tidak lupa saya ucapkan banyak terima kasih atas peran serta salah satu sobatku yang selama ini bersedia saya libatkan, Adrian Rabuna, agar bisa belajar bagaimana merintis mendapatkan modal dari investor dalam berwiraswasta serta cara bernegosiasi yang baik, sehingga harapan saya kedepannya … dia nantinya bisa juga mengembangkan pula sepulang ke Indonesia. Kerena bagaimanapun juga berwiraswasta itu bukan hanya untuk diri pribadi tetapi juga membantu orang lain dan pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s