Robot Beroda/berkaki Untuk Misi Penyelamatan

Gempa dan tsunami yang melanda perfecture Iwate dan Miyagi yang merupakan Jepang wilayah bagian timur memang telah usai, tetapi bocornya reaktor di Fukhusima belum sepenuhnya dapat tuntas teratasi. Bagaimanapun juga akhibat bocornya reaktor nuklir pembangkit listrik milik perusahaan listrik Tokyo atau Tokyo Electric Power Co. (Tepco), membuat banyak orang khususnya yang tinggal di Jepang sangat ketar-ketir. Terlebih bercermin pada bencana bocornya reaktor nuklir Chernobl di Jerman yang pernah terjadi dan membawa efek radiasi begitu besar bagi kehidupan di daerah sekitarnya. Lebih-lebih level radiasi dari bocornya reaktor PLTN Daiichi Fukushima pernah akan mendekati level 7 yang merupakan level tertinggi. Tetapi syukur alhamdulilah level tersebut bisa turun sampai dengan saat ini.

Orang Jepang memang terkenal berani berkorban demi negara, bukti nyata terbaru adalah “The Fukushima Fifty” yang merupakan grup pekerja terdiri dari 200 orang yang dipecah dalam 4 grup, sehingga setiap grup terdiri dari 50 orang secara bergantian berusaha mengatasi radiasi reaktor. Boleh dibilang mereka adalah garda depan yang siap mati demi menyelamatkan banyak orang.

Tetapi sekali lagi bahwa manusia ciptaan Tuhan adalah makluk yang paling sempurna yang sangat tak ternilai harganya dan sangat “eman” dikorbankan. Untuk itulah peran serta sebuah robot disaat-saat kritis seperti ini sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan para pekerja yang telah berani berkorban demi bangsa dan negaranya. Robot walaupun dibuat dengan dana yang mungkin sangat besar untuk suatu misi tertentu bisa diciptakan lagi bila rusak, tetapi bila manusia sudah menjadi korban, maka mustahil bisa mengcloningnya walaupun hasil penelitian telah berhasil melakukan cloning domba.

Robot diciptakan mempunyai tugas 4A (Automation, Augmentation, Assistance dan Autonomous) atas kondisi kerja yang 4D (Dangerous, Dirty, Dull dan Difficult). Sehingga sangat wajar bila robot dipakai untuk menjinakkan bom maupun yang terbaru-baru ini dipakai untuk membantu penanggulangan radiasi di reaktor PLTN Daiichi Fukushima. Dua robot dipakai untuk memasuki gedung reaktor untuk memeriksa radiasi, suhu, kelembaban dan tingkat oksigen dalam reaktor sehingga diperoleh data real time. Berdasarkan data ini digunakan untuk mengukur apakah area reaktor aman untuk mengizinkan pekerja memasuki gedung reaktor dan menentukan pekerjaan apa yang akan diperlukan agar reaktor yang lumpuh di bawah kontrol.

Yang menarik robot-robot yang digunakan untuk misi penyelamatan seperti kasus diatas maupun kasus bom, sebagian besar menggunakan robot jenis roda (wheeled robot) atau robot kaki (legged/walking robot), bukan jenis lain misalnya humanoid robot. Hal itu karena banyak faktor yang menjadi pertimbangan, antara lain tingkat obstacle (hambatan) di area target yang belum diketahui 100 % sehingga berpengaruh pada reability robot dalam menyelesaikan tugasnya. Misalkan jika menggunakan humanoid robot seperti robot “asimo” ataupun yang lainnya, dimana bila body membentur halangan, maka pusat masa harus diperhitungkan dengan cepat dan tepat agar robot humanoid bisa menjaga kesetimbangannya agar tidak roboh dan tetap berdiri. Beda dengan wheeled robot maupun legged robot dimana lebih stabil karena letak titik pusat massa dengan dengan permukaan bumi, sehingga aman menjaga sensor yang melekat pada body robot walaupun robot diinktruksikan melintasi area yang tidak rata/plat. Semoga kedepannya Pemerintah Indonesia memperhatikan dan mau mensupport penelitian dan pengembangan robot di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s