Belajar dari Sikap Bangsa Jepang

Hari ini tepatnya satu minggu dua musibah (jishin) yaitu gempa bumi dan tsunami telah memporak-porandakan prefektur Miyagi dan daerah sekitarnya. Gempa dan tsunami ini mengingatkan pada tsunami yang pernah terjadi di Aceh. Semuanya porak poranda, dari jumlah nyawa yang begitu besar harus menjadi korban sampai dengan harta benda yang sudah gak bisa di pegang. Terlebih ditambah lagi bencana reaktor nuklir PLTN Fukushima yang bermasalah. Kecemasan warga Jepang tidak bisa ditutupi akan bahaya radiasi yang ditimbulkan oleh bocornya beberapa reaktor PLTN Fukushima yang dikelola oleh TEPCO (Tokyo Electric Power Co.). Ini adalah kondisi terberat yang dirasakan bangsa Jepang setelah akhibat kalah PD II khususnya setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu (AS).

Walaupun sama-sama pernah mendapat bencana tsunami, ternyata cukup jauh perbedaan antara bangsa Jepang dan bangsa Indonesia menyikapi bencana yang terjadi dari kacamata pengamatan saya. Jujur saja, saya sangat kagum kepada bangsa Jepang dalam menghadapi bencana yang baru-baru ini terjadi. Beberapa hal yang membuatku terkesima:

1. Pemerintah langsung tanggap memberikan arahan yang membuat warganya tenang. Tidak hanya itu, PM Naoto Kan juga langsung dengan tegas menegur pihak TEPCO untuk memberikan informasi secara cepat dan akurat agar warga mengetahui detail perkembangan bocornya reaktor nuklir PLTN Fukushima. Tidak seperti pemimpin negeri kita yang justru setiap ada musibah/bencana sibuk alasan yang gak jelas dan menunda untuk menyelesaikan sampai terlupakan dengan masalah lain yang akan datang.

2. Sebenarnya gempa telah diprediksi sebelumnya karena daerah ini pernah juga terjadi tsunami pada tahun 1895 dan 1933 menurut tayangan NHK yang kemarin saya lihat. Tetapi gempa dan tsunami yang diprediksi tidak sebesar yang terjadi walaupun hanya butuh waktu sekitar 4 menit. Walaupun nyawa menjadi taruhannya karena dikejar bahaya, ternyata warga Jepang masih tertib menggunakan jalan raya. Mereka tidak saling selib untuk menyelamatkan diri sendiri tetapi masih antri agar kendaraan bisa jalan. Bayangkan bila mereka tidak tertib pastinya kecil kemungkinan akan selamat.

3. Ketika makanan dan minuman menjadi barang langka sekelah gempa, mereka dengan tertib antri didepan supermarket (kombini) mematuhi anjuran pemerintah dalam pembatasan pembelian makanan dan minuman. Pemerintah mengeluarkan himbauan dimana sementara waktu pembeli hanya diijinkan membeli maksimal dua botol air minum (1,5 lt), begitu juga dengan makanan sampai dengan kondisi stabil.

4. Media informasi seperti TV justru setiap detik update informasi yang sangat dibutuhkan warga dan ini sangat membantu dalam penanganan gempa, tsunami maupun radiasi bocornya reaktor nuklir. Tak ada lagu mendayu-dayu meratapi kesedihan yang ditampilkan tetapi semangat kebersamaan untuk saling membantu yang dikobarkan. Beda sekali dengan media TV di negara kita yang lebay dimana justru menjadikan bencana sebagai siaran bombastis mencekam.

5. Sikap pemimpin negara yang harus saya ajungi jempol. Pantas saja simbol-simbol negara Jepang seperti kaisar masih dijaga dan dihormat karena sikapnya yang menjadi tauladan. Lihat saja Kaisar Akihito yang langsung menghimbau dan mengajak warga Jepang untuk bersatu saling menolong. Selain itu para pejabat negara melepas asal partai dan lain sebagainya dalam membantu warganya tanpa melihat partai ataupun status lainnya. Beda sekali dengan pejabat negara kita yang turun ke daerah musibah dengan membawa spanduk partai sebagai sarana kampanye.

6. Tanggung jawab pekerjaan. Ketika PLTN Fukushima bocor, jangan kira pekerja di PLTN tersebut lari takut bahaya radiasi. Seperti yang ditulis oleh Otsuki (salah satu dari 800 karyawan PLTN) menyampaikan bahwa mereka sudah tidak terpikir menyelamatkan bahaya radiasi tetapi justru menghadapi radiasi dengan kepala tegak, bahkan seperti yang dituturkan mereka siap mati demi menyelamatkan warga disekitar Fuskushima dari dampak radiasi. Yang lebih membuat saya kagum adalah beberapa diantara mereka justru ada yang belum mengetahui kondisi keluarganya paska kena gempa dan tsunami padahal tempat tinggalnya masuk daerah pusat gempa. Karyawan Tepco menolak untuk melarikan diri, dan terus bekerja bahkan saat bahaya mengancam kehidupan mereka sendiri. Berikut ini pernyataan asli salah satu pekerja yang membuat merinding “Japanese nuclear worker on the news: “I am prepared to die to avoid meltdown.” Say it with me–I will not complain about my job today.” Baru saya tahu kenapa mereka mengangap bahwa kehormatan adalah diatas segala-galanya, pantas saja mereka mundur atau bahkan harakiri bila gagal melakukan tanggungjawabnya.

Semoga bangsa Indonesia khususnya pejabat negara yang menentukan kebijakan publik mau belajar kepada bangsa Jepang dalam menghadapi bencana.
18 Maret 2011

2 responses to “Belajar dari Sikap Bangsa Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s