Nikmatnya Tiada Tara

Emang benar yang dibilang orang tua…kenikmatan itu gak semuanya bisa dikonversi langsung dengan uang. Hari ini aku mengalaminya sendiri atas nikmatnya “ubi goreng dengan cappuccino” mengalahkan lainnya.

Seperti biasanya hari-hariku penuh dengan kesibukan di lab…berangkat pagi jam 09.00 dan kembali pulang ke apato jam 23.00 or 24.00. Jadi sudah pasti ketika pulang, aku selalu ditemani oleh sunyinya malam terlebih saat ini sedang musim dingin jadi hawa dingin cukup menusuk ke tulang-tulang badan. Sampai di rumah yang aku lihat hanya cemilan khas Jepang yang biasa aku beli di supermarket dekat apatoku dan kebetulan aku bosan makan makanan tersebut. Ketika kubuka kulkas, dibagian bawah kulihat dua buah ubi Jepang yang cukup besar pemberian sobat sohibku “Adrian Rabuna” minggu lalu. Hmmm…diapakan ubi Jepang ini agar bisa membuat suasana renyah walau sendirian di apato ditengah malam seperti ini. Tak lama berpikir kuputuskan untuk digoreng saja…dan hanya butuh sekitar 45 menit beres.

Sepertinya kalau “makan ubi goreng” dan “mendengar lagu U2” saja kurang nikmat…maka “kuseduh cappuccino hangat“. Hmmm….wah nikmat sekali rasanya…Ubi Jepang memang manis semanis artis-artisnya…^_^…rasanya mengalahkan steak buatan “Infusion” Thamrin Square. Ditambah cappuccino hangat yang tak kalah nikmat dengan kopi di “Excellso” ataupun “Starbuck Coffee“.

Memang sesuatu itu jangan dilihat harga, bila waktunya tepat….saya yakin sesuatu itu punya harga yang jauh tak ternilai. Ini mengingatkan pertanyaan temanku kepadaku … kenapa minum kopi di Starbuck Coffee yang average harganya berkisar 50 rb an…kan lebih murah di warung kucing (baca :pinggir jalan). Aku coba jelaskan kalau dua-duanya sama-sama nikmat disaat yang tepat. Minum kopi di warung kucing sambil lesehan terasa nikmat pas kita malam-malam ingin menikmati hangatnya kopi sambil menikmati suasana jalanan di malam hari. Begitu pula minum kopi di Startbuck Coffee ataupun sejenisnya, terasa nikmat ketika ngobrol santai dengan teman yang tentunya kita butuh tempat yang nyaman, dimana pembicaraan biasanya berkisar pekerjaan ataupun topik lainnya. Jadi dikembalikan lagi bahwa kenikmatan itu memang gak berbanding linier dengan uang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s