Wajah Hukum Indonesia

Kapan wajah penegakan hukum di Indonesia benar-benar memberikan nilai rasa keadilan bagi seluruh WNI? Seharusnya para penegak hukum (Polisi, Jaksa dan Hakim) bahkan presiden harusnya bisa belajar dari negara Cina. Begitu cepat negara Cina belajar atas kesalahan masa lalu atas pelaksanaan nilai-nilai keadilan dan segera memperbaikinya, tetapi mengapa negara kita tercinta tidak mau belajar melihat negara lain yang begitu baik melaksanakan proses hukum.

Dua tahun yang lalu sebelum saya berangkat ke Jepang pas ngobrol-ngobrol dengan Pak Yono (owner roti “Swiss” semarang) dan Pak Budi (distributor “Nestle” wilayah Jateng) bercerita tentang kemajuan Cina yang sangat menggeliat. Maklum beliau berdua memang sering bolak balik ke Cina untuk urusan bisnis. Beliau bercerita tentang sebuah perusahaan yang di demo karyawan karena tidak menaikkan gaji karyawan. Karyawan berpendapat bahwa perusahaan untung tetapi perusahaan menyatakan bahwa perusahaan rugi. Maka pemerintahpun turun tangan dengan menerjunkan audit independent bagi perusahaan tersebut. Bila hasil audit menyatakan perusahaan untung, maka pengusaha akan pasti dapat dipenjara bahkan bisa dihukum berat tetapi bila sebaliknya perusahaan ternyata rugi, maka sudah pasti penggerak demo yang akan masuk penjara. Ini hanyalah salah satu contoh pelaksanaan hukum di Cina…masih banyak obrolan dengan beliau berdua yang sangat menarik. Oleh karena itu saat ini para pengusaha di Cina kebanyakan sudah tidak berani menyuap pejabat pemerintah Cina.

Tapi sekali lagi…lain ladang lain belalang…lain INA lain Cina. Kita lihat saja bagaimana kasus si “Gayus” yang jelas-jelas menelanjangi hukum di Indonesia tetapi kenyataannya yang terseret atau dikorbankan hanya para bawahan saja. Perusahaan penyuap happi-happi saja. Dan anehnya hukum di Indonesia atas perlakuan “tersangka berduit” dengan “tersangka jelata” amat sangat kentara. Lihat para koruptor dengan penampilan perlente sekaligus memiliki akses kebebasan di tahanan daripada para maling sandal atau maling pisang. Harusnya agar memberi nilai moral jera selayaknya yang sudah berstatus tersangka harus menggunakan baju tersangka bukannya menggunakan “batik” seperti akan menghadiri acara resepsi pernikahan, bahkan kalau dilihat si “Gayus” seperti akan ikut acara “fashion show“.

Sekali lagi saya hanya rakyat kecil yang hanya bisa menonton para pejabat penegak hukum memainkan skenarion sinetronnya. Semoga negara Indonesia tercinta nantinya bisa meninggalkan grade dari “negara dengan birokrasi terkorup” setelah ada seorang presiden yang tegas yang tidak berpihak pada para koruptor negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s