Semangat Mahasiswa Jepang “Kito San”

Baru kali ini aku bertemu dengan mahasiswa Jepang yang satu lab denganku mempunyai keinginan tinggi untuk belajar bahasa Inggris. Nama mahasiswa itu “Kito”, aku memanggil dia “Kito san”. Dia bilang akan belajar bahasa Inggris denganku karena dia butuh agar bisa menambah kemampuan dia. Dia adalah mahasiswa tahun keempat (“yon nen sai”). Sebenarnya dia yang paling buncit bergabung dengan lab ku setelah teman-temannya bergabung 3 bln lebih awal. Tapi entah mengapa aku justru dekat dengan dia dibandingkan dengan yang lain. Mungkin karena anaknya sopan, ramah dan tidak ramai sehingga saya dan dia bisa ngobrol ngalor-ngidol (macam-macam). Pertama kali aku berkenalan setelah dikenalkan Sensei adalah pada waktu dia tidak bisa connect internet dan aku bantu settingkan jaringan internet di komputernya. Sejak itu dia sering berkomunikasi denganku.

Yang ingin aku tulis kali ini adalah tentang semangat dia yang membuat aku jadi iri. Dia di Fukui ngekost seperti saya juga. Keluarganya tinggal di Nagoya bersama adik perempuanya. Dia dua bersaudara. Adiknya kuliah di kedokteran “Nagoya University“. Kalau tidak salah, ayahnya seorang pegawai perusahaan swasta. Memang lumrah (wajar) di Negara ini bila anak sudah berusia 20 tahun maka dianggap sudah dewasa dan bebas menentukan arah hidupnya tetapi orang tua tetap mengarahkan dan memantaunya. Demikian pula Kito San yang melanjutkan kuliah di Fukui Daigaku.

Saya pikir dia seperti mahasiswa yang lainnya dalam hal keuangan dimana masih sepenuhnya disupport ortunya, ternyata dia tidak. Dia melakukan kerja paruh waktu (“arubaito”). Baito yang pertama, dia bekerja sebagai pegawai toserba di “Family Mart” dari jam 03.00 s/d 08.00. Bisa dibayangkan betapa ngantuknya jam-jam tersebut. Baito yang kedua, dia sebagai pengantar barang di sebuah toko minuman, dia mengantar minuman dari jam 16.00-20.00 ke pelanggan. Padahal dia biasanya datang ke lab jam 10.00 pagi. Pantas saja kadang dia terantuk-antuk di depan komputer.

Pernah saya tanyakan ke dia kenapa dia bekerja sampai seperti itu, dan dia menjawab kalau tidak ingin menyusahkan ortunya karena adiknya juga butuh biaya, makanya dia bekerja. Dia memang akan minta uang ortunya bila benar-benar penting dan selama dia masih sanggup untuk mencari uang sendiri, dia akan berusaha. Salut dua jempol untuk dia saat mendengar dia bercerita kepadaku sore ini. Gambate Kito San!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s