Untukmu “OMY chan”

Desember 2009 merupakan bulan yang menyenangkan dalam satu tahun terakhir ini karena bisa pulang ke Semarang, bisa bertemu isteri tersayang dan anak semata wayangku “Omy” yang sudah mulai gede dan pinter, selain itu bisa bertemu ortu dan keluarga besar. Yang tidak kalah pentingnya adalah menjalankan mandat Sensei ke UI.

Hal yang paling menyenangkan ketika menghabiskan waktu di Indonesia adalah bersama si “Omy” dan memang dia pun merasakan kangen yang teramat sangat….sampai-sampai ia ingin tidur sama diriku setelah satu setengah tahun aku tinggalkan ke Jepang. Tidak hanya itu, ketika berangkat dan pulang sekolah playgroup, dia sering tidak mau diantar-jemput sama sopir rumah, tetapi harus aku yang antar-jemput. Bahkan mandipun kadang dia minta aku memandikannya. Kedua eyangnya, maminya dan baby sisternya “Mbak Rus” sampai senyum-senyum melihat tingkah polah Omy. Tidak hanya itu, setiap pagi setelah dia makan pagi, dia pun mengajakku main bola dll. Sebagai rasa bersalahku, maka kuturuti semua permintaannya termasuk setiap hari minta dibeliin mainan, walaupun banyak kerjaan di Semarang yang harus aku tunda…..yah demi si “Omy”.

Hampir 4 minggu aku dapat liburan ke Semarang, dan di awal Januari 2010, aku harus kembali lagi ke tanah “Kaisar Hirohito” untuk melanjutkan studiku kembali. Berat rasanya meninggalkan isteri dan omy ku tersayang…tapi harus bagaimana lagi…semua ini kulakukan untuk mereka juga. Ketika satu hari sebelum berangkat, Omy tahu aku packing akan pergi lagi, ia bilang gak mau di tinggal dan mau ikut ke Jepang. Selama ini aku amat sangat jarang meneteskan air mata, tetapi kali ini tak bisa kutahan lagi ketika harus menginggalkan Omy ku tersayang. Karena aku tidak ingin mengulang kembali setahun yang lalu dimana dia sakit panas setelah ikut mengantarkan keberangkatanku ke bandara pada saat pertama kali berangkat ke Jepang , maka kali ini aku meninggalkan Omy dalam keadaan dia tidur siang walaupun siang itu aku sempatkan menemani tidurnya.

Galau rasanya yang aku rasakan di pesawat dr Jogya-Denpasar-Osaka. Begitu cepat waktu 4 minggu di Semarang dan harus meninggalkan orang-orang yang aku sayangi. Begitu sampai di Osaka, aku langsung sms istriku menanyakan keadaan Omy, dan istriku bilang kalau omy sering menanyakan dimana aku. Getir rasanya hatiku…terlebih begitu sampai di Osaka aku sudah disambut musim dingin dan sms agar segera datang ke lab begitu sampai.

Kunaiki kereta express dari Osaka-Kyoto-Fukui. Untuk mengurangi bayang-bayang Omy dan istriku, kulihat bentangan salju (“yuki”) yang menyambut kedatannganku kembali dibulan dingin tahun ini (Winter 2010). Ternyata tidak hatiku saja yang dingin tetapi cuaca dinginpun menyambutku dan menemaniku. Dalam hatiku, aku selalu berdoa semoga aku cepat selesai studi di Jepang, bisa berkumpul kembali bersama keluarga dan akan kupersembahkan jerih payahku disini terutama untuk istri dan anakku “Omy” yang kehilangan figure seorang “ayah” di usia yang masih kecil, serta kedua ortuku dan ortu istriku yang tak henti-hentinya mendoakanku.

Winter awal 2010,
Munadi

2 responses to “Untukmu “OMY chan”

  1. We’re in the same boat, pak..
    Pas kmrn saya balik kesini lagi, kosong banget rasanya. Pengen kabur aja naik pesawat balik ke Indonesia lagi…
    Apalagi saya ga boleh pulang dua tahun ini sama yang ngasih beasiswanya…
    Huhuhuhuhuuu….
    Ayo Pak, setahun lagi, demi keluarga ^^
    Saya juga akan berjuang, dua tahun lagi ^^

    -nilna-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s