Oh President Indonesiaku Pak “eSBeYe” (2)

Kalau saya tidak salah, program “100 hari” pertama kali didengungkan oleh President Roosevelt (saya bukan ahli politik dan sejarah) dan saat ini menjadi trend baik dari Pak Kades, Pak Bupati, Pak Gubernur maupunpun Pak President yang baru terpilih. Apa yang terjadi dengan “Program 100 harinya Kabinet Pak “eSBeYe” jilid II? Saya yakin banyak rakyat Indonesia yang tidak tahu walaupun Pak “eSBeYe” dan para pembantunya mengklim 90 % berhasil. Oleh karena itu hari ini tgl 28 Januari 2010 adalah hari selesainya program 100 hari kabinetnya banyak terjadi demo di berbagai kota di Indonesia atas kinerja beliau bersama kabinetnya di 100 hari memimpin negeri Indonesia. Kalau boleh berpendapat, permasalahannya adalah :
1. Pelaksanaan programnya 100 hari tidak mendasar pada perubahan kebijakan yang significant, misalnya masalah TKI, korupsi dll. Seolah-oleh semuanya sudah okey sehingga para pembantu (menteri) sibuk sendiri tetapi sepertinya tidak memiliki dasar teknis pelaksanaan yang jelas. Contoh jelas kasus kamar VIP “Mpok Ayin”, dimana salah satu dirjennya adem-ayem tidak kena tindakan yang jelas-jelas tahu dan statementnya malah memilukan perasaan orang kecil.
2. Di akhir pemerintahan periode pertama dan awal periode kedua banyak masalah, tetapi tidak ada action yang jelas Pak “eSBeYe”. Misal kasus “Cicak vs Buaya” dan “Sandal Kang Turi (Century Scandal). Buat saya yang orang awam sampai saat ini adalah uang untuk bank Century adalah “bukan uang Negara”….hmmmm….
3. Banyak kebijakan yang tidak berkepihakan kepada rakyat, misal kasus Prita, Pembelian mobil mewah para pembantunya, Pemugaran istana Presiden, rencana kenaikan gaji president dan para pembantunya, beli pesawat kepresidenan dsb.
4. Tumpang tindih tugas lembaga Negara
Banyak sekali saat ini lembaga yang dibentuk tetapi pelaksanaanya bisa saling tumpang tindih, misal satgas mafia hukum (dgn KPK, Kejaksaan, Kepolisisan), Komite Inovasi Nasional (dgn BPPT dll). Artinya apa tidak lebih baik mengembalikan tugas lembaga tersebut yang sebenar-benarnya dalam pelaksanaan sekaligus juga bisa menghemat anggaran negara.
5. Menikmati kekuasaan. Setiap orang boleh bernyanyi ataupun mencipta lagu untuk melepas kepenatan tetapi kalau sampai melaunching album ketiga “Ku Yakin Sampai Disana” ini sih menurutku sudah kebangetan, apa tidak lebih baik menyalurkan tenaga dan pikirannya untuk menentukan kebijakan tentang TKI misalnya, yang sering dibunuh majikannya di negeri orang. Kalau yg melaunching album itu mbak “BCL”dengan “Tentang Kamu” atau mbak-mbak “Wonder Girl” dengan “nobody”nya sih gak bakal orang protes karena dia memang penyanyi dan menggunakan uangnya sendiri…nah ini President, sementara kasus Bank Century dibiarkan begitu saja malah menteri keuangan yang harus menghadapi sasaran tembak dari kanan-kiri, inikah seorang berjiwa “Pemimpin”?
6. Acara cemonial dan curhat. Sering sekali Pak “eSBeYe” pidato diacara peresmian/cemonial. Yang saya herankan adalah isi pidatonya yang menurut saya kurang pas dengan tema, antara lain malah berisi curhat ttg keamanan beliau, terlalu banyak mengeluh. Di negara manapun yang namanya “President” pasti banyak diincar lawan-lawan politiknya, untuk itulah ada Pespampres atau Security Service ada. Saya tidak pernah mendengar President Om “ObaMA” mengeluh tentang keamanannya padahal di negara US gitu lho, selain itu Om “ObaMA” itu jauh lebih muda dan tidak pernah menjadi tentara, soal hidup dan mati itu yang menentukan Tuhan YME!
7. Komunikasi dengan para pengkritik sejati. Pengkritik beda dengan penjilat. Kalau penjilat setahu saya adalah seseorang yang suka mengkritik tetapi tidak berdasar dan akan diam setelah diberi uang atau kekuasaaan. Pak “eSBeYe” sepertinya akan menjauh bila berhadapan dengan pengkritik sejati dan kemudian para pembantunya akan segera membuat benteng pertahanan. Ini bisa dilihat berita demo hari ini dimana Pak “eSBeYe” menjawab aksi demo atas program 100 harinya di acara peresmian PLTU di Banten….terus kapan ketemunya? Saya akan salut kepada Pak “eSBeYe” yang seoarng Jendral gagah berani menghadapi demo dengan bisa memberi jawaban di Istana Presiden. Bagaimanapun juga mereka yang demo adalah rakyat Indonesia yang ingin segera ada perubahan menuju Indonesia lebih baik.

Tidak ada manusia yang sempurna, memang pepatah itu sangat pas untuk Pak “eSBeYe” . Denagn dukungan suara mayoritas di lembaga legislatif, semoga tidak akan muncul “ORBA JILID II”. Dan dengan berakhirnya 100 hari memimpin negeri ini, harapan saya sebagai rakyat kecil yang bukan ahli politik hanya bisa berharap kedepannya Pak “eSBeYe” bisa tegas dalam mengambil kebijakan yang pro rakyat bukan hanya tegas saat berpidato saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s