Tempat makan di Jepang

Makanan Jepang memang mempunyai citra rasa tersendiri. Pertama kali ketika makan masakan Jepang terasa sangat asing, tetapi setelah berapa kali justru malah ketagihan. Ketika masih di Semarang, ada dua tempat favoritku yaitu :
1. Shabu-shabu house
Terletak di komplek ruko Murni jl. Gajah Mada bersebelahan dengan roti Swiss milik Pak Yono (ortu Mas Sony). Banyak jenis makanan favorit saya di sini terutama yang ada beef dan sayuran yaitu shabu-shabu.
shabu2

2. Nori

Terletak di pintu gerbang perumahan Candi Golf, memang agak masuk dari jalan utama dr. Wahidin tetapi cukup ramai juga kalau malam.
nori 1
Continue reading

Lebaran Tanpa Keluarga Tersayang

Sudah dua lebaran ini aku tidak bisa kumpul bersama keluargku terutama istri dan anakku tersayang. Apa boleh buat…keadaan yang memaksaku. Memang tidak enak … puasa dan lebaran jauh keluarga apalagi menjalankan puasa di negara sekuler. Tapi alhamdulilah bahwa Allah SWT masih memberiku kenikmatan bisa melalui puasa tahun ini dengan baik.

mam n omy
Continue reading

Iklan Yang Menarik

Setiap orang pasti pernah mengalami apa yang disebut “suntuk”. Tidak terlebih dengan saya yang seharian ini rasanya boring banget. Ada berbagai cara untuk menghilangkan perasaan suntuk. Bagi saya, selain tidur ada cara lain yang biasanya aku lakukan dan menjadi favorit yaitu melihat iklan commercial yang lucu maupun yang mengandung teknologi. Berikut ini beberapa commercial video yang menarik :
1. Hemat Tenaga drpd Turun Tangga
2. Main Tenis di Atas Gedung
3. Mobil or Anak Muda yang Energik?
4. Cara Menghemat Area Parkir
5. Cara Membuang Kaleng Minuman
6. Keluar Parkir
7. Toilet Cerdas

Tradisi Memberi Nama

Tulisan ini ditulis tiga tahun yang lalu oleh teman baik saya … Pak Agus Fathuddin Yusuf … yang kebetulan menjadi wartawan senior harian “Suara Merdeka” di JaTeng. Tulisan ini saya posting diblog saya ketika aku kangen sama si “Omy or Akrom Karuma Ferdian“. Tulisan ini telah saya edit dan bercerita tentang upacara pemberian nama anak saya si “Omy’ .

TRADISI upacara memberi nama (Walimatut Tasmiyah) mulai hilang. Orang Semarang biasa menyebut bancakan puputan. Biasanya bersamaan dengan putusnya tali pusar bayi, orang tua menggelar upacara aqiqah. Menyembelih dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan. Pada saat itu biasanya digelar acara sroqolan atau srakalan yakni membaca shalawat barzanji sambil memotong rambut si bayi yang baru puputan.
belajar sholat

“Tradisi itu hampir hilang. Ini pertanda umat mulai melupakan Allah,” kata kiai kharismatik Habib Umar Muthohar SH. Ia memberi mauizah hasanah dalam Walimatut Tasmiyah cucu pertama H Ali M., dari pernikahan Farah Ahdawiyah dengan Munadi yang melahirkan anak pertama laki-laki bernama “Akrom Karuma Ferdian (Romi/Omy)“. H Ali M., sang istrinya dan besan H. Djasri tampak berseri-seri wajahnya menimang cucu pertamanya. “Nama itu mengandung doa, jadi orang tua jangan sembarangan memberi nama anaknya,” kata Habib Umar. Akrom Karuma Ferdian, menurut dia artinya “orang yang mulia di antara orang-orang yang dimuliakan“. Continue reading

Sistem Kuliah di Jepang

Di harian Kompas, pernah ada artikel yang saya baca tentang jumlah peminat pendidikan tinggi ke Jepang semakin meningkat. Berikut ini uraian singkat yang menjelaskan tentang pendidikan di Jepang sehingga bisa membantu teman-teman yang sering menanyakan hal ini dan untuk yang lain … barangkali ada keinginan melanjutkan studi ke Jepang.

Pada prinsipnya sistem pendidikan di Jepang memiliki pola pendidikan yang hampir sama di Indonesia yaitu pola penjenjangan dengan sistem 6-3-3-4…kayak strategi posisi pemain sepak -bola aja! Tapi beda penjelasaanya, yang dimaksud 6-3-3-4 adalah :
1. 6 tahun pendidikan dasar (ditambah 3 tahun pendidikan menengah pertama dan 3 tahun menengah atas)
1 SMA DI JEPANG

2. 4 tahun pendidikan tinggi (kecuali bidang kedokteran, kedokteran hewan dan dokter gigi).
gakusei

Untuk jenjang pendidikan pasca sarjana Jepang juga mengikuti pola 2-3, yaitu :
1. 2 tahun untuk Program Magister
Program Magister (Sushi Katei) masih diberikan kuliah tanpa praktikum yang kebanyakan menggunakan bahasa Jepang.
2. 3 tahun untuk Program Doktor.
Program Doktor (Hakushi Katei) umumnya tidak ada kuliah. Bahasa Pengantar bisa menggunakan bahasa Jepang dan Inggris. Continue reading