Istighotsah Buat Hadiah Nikah

Hari ini aku teringat kepada Istriku tersayang yang ternyata telah menemani hidupku hampir 5 tahun. Berikut ini adalah salah satu kisah hidup saya yang aku lalui ketika menyunting istri tercintaku yang ditulis oleh sahabatku “Mas Achiar M Permana” dari Suara Merdeka tetapi dengan beberapa bagian telah aku edit. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Pak Agus dan Mas Achiar atas kebaikanyanya.

istighotsahSUATU hari, sekitar satu setengah tahun silam, saya ditelepon oleh Kepala Biro Kota—ketika itu—H Agus Fathuddin Yusuf. Selepas zuhur, katanya, ada istighotsah di Masjid Agung Jateng dan saya diberi tugas untuk meliputnya. Saya, yang ketika itu tengah meliput misa ekaristi di Bale Agung Merapi PRPP pun mengiyakan. Sesaat sebelum azan berkumandang, saya tinggalkan kompleks PRPP dan menuju ke MAJT di Jl Gajahraya.

Setiba di sana, saya tidak melihat ada aktivitas istimewa, selain orang yang melakukan ibadah salat zuhur. Hanya saja, saya melihat sejumlah kiai besar—kadang-kadang disebut kiai khos—hadir di rumah Tuhan itu. Benar juga, sesudah shalat zuhur, berzikir, dan menunaikan rawatib, para jamaah zuhur tak keburu beranjak dari tempatnya. Siang itu mereka mengikuti istighotsah istimewa. Istighotsah buat hadiah nikah.

Lantunan doa bersama itu dihadiahkan bagi pernikahan “Munadi ST, MT” dan “Farah Ahdawiyah SE, MM” yang siang itu mengikat tali ikatan pernikahan. Munadi adalah putera dari H. Djasri sedangkan Farah adalah putri H Ali M. Untuk pelaksanaan sunah Rasulullah itulah, para jamaah berkirim doa bersama. Tak lama kemudian, mengalirlah bacaan istighotsah memenuhi relung-relung masjid berarsitektur paduan Islam-Jawa-Roma itu. Ritual dipimpin oleh KH Muhaiminan Gunardo, pengasuh Pesantren Bamburuncing Parakan Temanggung. Suara jamaah terdengar berdengung-dengung, susul-menyusul dengan bacaan Kiai Muhaiminan yang keluar dari perangkat sound system masjid.

”Allahumma shalli shalatan kamilatan, wasallim salaman tamman…,” seru Kiai Muhaiminan, yang segera diikuti koor para jamaah.

Begitulah, pernikahan Munadi-Farah memperoleh hadiah yang terkategori langka. Lazimnya, sebuah pernikahan dihadiahi kado materi, berupa barang atau uang. Tapi, KH Muhaiminan dan para jamaah siang itu memiliki pilihan lain. Istighotsah itu diikuti oleh 500-an jamaah. Termasuk di antaranya H. Mardjijono, H. Abdul Djamil, HM Rofiq Anwar, H. Ahmad Rofiq, KH Ahmad Darodji, H Noor Achmad, H Hasan Thoha Putra, dan sejumlah undangan lainnya.

Akad Nikah
Istighosah tersebut dilanjutkan dengan akad nikah yang dipimpin langsung oleh H. Ali M., selaku wali mempelai perempuan. Bertindak sebagai saksi dari pihak perempuan H Mardiyanto dan saksi mempelai laki-laki H Chabib Thoha. Adapun khotbah nikah disampaikan oleh KHMA Sahal Mahfudh. Dalam khotbahnya, Kiai Sahal menerakan sejumlah hal yang terkait dengan hak dan kewajiban suami istri, yang segera melekat sesudah akad nikah diucapkan. Agar pernikahan bisa berlanjut hingga terpisahkan oleh maut, maka kedua belah pihak harus memahami betul hak dan kewajiban itu.

Nanti, kalau sudah punya anak, melekat hak dan kewajiban baru, yakni antara anak-orang tua. Begitu juga, kalau anak sudah bertambah, rumah tangga semakin merepotkan, dan nantinya memelihara seorang pembantu. Bertambah satu lagi hak dan kewajiban, antara majikan-pembantu. Itu semua harus bisa dipenuhi dengan sebaik-baiknya,” papar Mbah Sahal Mahfudh.

Selain itu, pernikahan Munadi-Farah juga diberkati oleh doa kiai NU. Berturut-turut memberikan doa kepada kedua mempelai, KH Maemun Zubair (Sarang, Rembang), KH Muhaiminan Gunardo (Parakan, Temanggung), dan KH Habib Ali Alhabsyi (Pemalang). Keempat kiai itu menyampaikan doa dalam bahasa Arab. Sedikit berbeda, doa yang dipanjatkan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang memperoleh giliran terakhir. Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang tersebut mengucapkan doanya dalam bahasa Arab dan Indonesia. ”Ya Allah, berkatilah kedua mempelai ini dengan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan senantiasa dipenuhi rahmatmu.”

Saat doa para kiai dipanjatkan, terlihat mata Farah berkaca-kaca menahan rasa haru dan bahagia. Sesekali, mempelai yang duduk di samping ibunya dan ibu mertuanya itu mengusap air matanya.(Achiar M Permana)

Alhamdulilah berkat rahmat dari Allah SWT dan doa para Kyai yang sangat saya hormati, kehidupan kami saat ini berbahagia terlebih saat ini kami sudah dikarunia seorang putra“.

Salam,

Munadi A.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s