Falsafah Islami dalam Ketika Cinta Bertasbih

Sebenarnya besok saya harus mengikuti Nihon go test yang diadakan pihak daigaku (universitas) untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Jepun. Tapi malah gak belajar, dari tadi malam sampai pagi sambil menunggu waktu subuh yang fajarnya jatuh pukul 03.30, aku habis melumat dua seri sekaligus novel Kang Abik yang berjudul “Ketika Cinta Bertasbih”. Memang ada banyak pekerjaan yang harus saya lakukan tetapi begitu membaca beberapa bab, aku tambah penasaran untuk membaca semuanya sampai habis walaupun pekerjaan lainnya jadi tertunda.

1

Kang Abik yang mempunyai nama asli Habiburrahman El Shirazy sangat berpenampilan sederhana…itulah kesan pertama begitu pertama kali pernah bertemu beliau. Kita tidak meragukan kemampuan beliau dari segi pendidikan agama apalagi kemampuan menulis novelnya yang sarat penuh dengan falsafah hidup islami.
2

Pada saat membaca tentang biografinya, jadi ingat kalau tidak salah beliau pernah mondok/nyantri di Mranggen Demak…hmm…jadi ingat Kyai Munif Zuhri – Ponpes Giri Kusumo, Mranggen – Demak. Ketika aku diutus ortu untuk silaturohmi ke beliu…begitu sederhananya beliau…seperti kebanyakan…tetapi begitu mulai diskusi tentang ilmu agama …subhanallah….sampai aku malu kepada diriku sendiri ketika aku dan beliau diskusi tentang makna dan falsafahnya kata “Mujahadah”.

Oh..ya bagi yang belum baca…saya saran kan untuk baca. Karena posisi saya yang tidak bisa mendapat hardcopynya…maka saya mencari softcopy di internet. Saya sarankan untuk beli novel tersebut….

Kita kembali ke novel Ketika Cinta Bertasbih (KCB), KCB 1 menceritakan tentang Azzam mahasiswa Al-Azhar Cairo yang menyambi sebagai pedagang bakso dan tempe untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya di Kartasura. Azzam sangat rajin bekerja, memasarkan tempe-tempenya ke kalangan ibu-ibu Indonesia yang tinggal di Mesir. Dia juga menerima pesanan bakso untuk acara-acara yang diselenggarakan oleh KBRI. Karena seluruh waktunya lebih banyak dia gunakan untuk membuat tempe dan berjualan bakso, maka kuliahnya agak terlantar. Sehingga sudah 9 tahun dia mengambil S1 di Al-Azhar tapi belum lulus juga. Sebenarnya Azzam adalah anak yang cerdas terbukti pada tahun pertama di Al-Azhar dia lulus dengan predikat jayyid jidan atau sangat memuaskan atau bekennya summa cum laude.
3

Sedangkan pada KCB 2, mulai dimunculkan kisah lain dari pemain utama, seperti halnya kisah kekecewaan Fadhil ketika seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, yang ia pernah harapkan dapat menjadi belahan jiwanya ternyata menikah dengan sahabatnya sendiri.

Konflik tajam terjadi pada beberapa bagian dari novel “Ketika Cinta Bertasbih” diantaranya pada shubuh hari ketika terjadi keributan di rumah Azzam, disana diceritakan tentang seorang paman yang akan menembak dan membunuh keponakannya sendiri. Kemudian klimaks cerita ini terjadi ketika terjadi kecelakaan dimana yang menjadi korbannya adalah Azzam dan Ibunya, mereka terpelanting jatuh dari atas sepeda motor karena tertabrak bus yang ugal-ugalan, sampai akhirnya Azzam harus rela berbaring di rumah sakit menderita patah tulang, sementara ibunya berpulang menghadap ke hadirat Alloh SWT. Namun Allah punya skenario sendiri yang akhirnya menemukan Azzam dan Ana sebagai pribadi-pribadi yang santun, agamis dalam balutan keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warohmah.
4

Novel ini banyak berkisah yang menurut saya sangat realistis bukan bombastis…terutama tentang perjuangan Azzam untuk dapat hidup dan dapat bersekolah di negeri orang dengan latar belakang ekonmi kelurga sederhana. Saya sendiri manemui banyak hal seperti diatas pada waktu pergi ke madinah dan mekah…dimana banyak teman-teman seusia kakak saya, dan seusia saya yang berasal dari NTB/NTB dan daerah lain yang mencari ilmu sambil bekerja. Dan itupun juga saya temui saat ini di negeri Sakura ini. Content lain yang menurut saya menarik adalah falsafah hidup islami yang diuraikan Kang Abik begitu sederhana, mengalir indah dan menyentuh hati.

Okey…cukup sekian…saya harus gantian baca buku nihon go agar bahasa Jepunku lebih baik!
Semoga Allah SWT memberi jalan bagi kita semua bila kita mau berusaha….Amin!

Salam,

Munadi A

2 responses to “Falsafah Islami dalam Ketika Cinta Bertasbih

  1. Prof., ke Kyai Munif Zuhri – Ponpes Giri Kusumo ngapain aja? apa silaturrahim atau mau nyantri, atau yang lain?

    “sampai aku malu kepada diriku sendiri”, alhamdulillah Professor msh punya rasa malu, trus apa tindak lanjut dari rasa malu itu?

    • Pinginnya sih dua-duanya Ustat…tapi untuk nyantri belum layak e….
      Iya…alhamdulilah masih punya malu…
      Saya menunggu petunjuk dari ustat saja yang lebih tahu …he….3x!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s