Yang Membuat Jepang Berbeda Dengan Negara Kita

Mungkin tidak terbayang bagi diriku sendiri kalau negara Jepang dibom pada PD II di kota Hirosima dan Nagasaki bisa bangkit berkembang seperti saat ini. Perubahan itu saya yakin tidak jatuh dari langit….ya berusaha bangkit setelah berada pada keterpurukan. Tapi yang menjadi pertannyaan adlah kenapa negara kita yang kaya akan SDA tidak bisa seperti negara Jepang??? Padahal kalau boleh dikatakan bahwa Jepang sebenarnya negara yang mungil yang tidak lebih besar dari pulau Jawa dan SDA jauh dibawah Indonesia.

Memang banyak sekali perbedaan dengan negara kita…..berikut ini beberapa kebiasaan orang jepang (Nihon jin) yang telah mengakar menjadi budaya sehingga bisa membuat negaranya menjadi negara maju dunia :
1. Menghargai waktu
Masyarakat jepang terkenal dengan kedisiplinannya terhadap waktu. Contoh realnya bisa dilihat di stasiun (eki). Begitu banyak orang berjalan cepat (berlari) seperti mengejar sesuatu. Saya sendiri merasakan begitu, begitu kita turun di stasiun untuk tansit ke kereta lain biasanya hanya ada jeda 5 menit…ya….memang harus jalan cepat or lari! Apabila terlambat semenit saja kereta, maka harus menunggu kereta selanjutnya. Mungkin ini sangat berbeda sekali bila kita ke Gambir!

2. Kerja Keras
Ini bisa dilihat pegawai/pekerja yang bener-benar mempunyai etos kerja yang tinggi dan sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun) dan negara lain. Contoh realnya adalah seorang kasir depato (supermarket), mereka datang sebelum toko buka dan selama bekerja mereka tidak duduk dan ini juga berlaku bagi polisi di pos jaga ataupun penarik tiket pada saat mau masuk di stasiun kereta.
Oh ya…kebiasaan kita klo tidak ada bos maka akan pulang lebih awal, sedangkan pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang. Hal tersebut menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.
Di kampus, saya rasakan juga. Professor juga biasa pulang malam, biasanya sekitar jam 10.00 – 12.00 malam.

3. Malu
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri) merupakan cara yang dinilai ksatria bila melakukan kesalahan. Sangat sering kita mendengar berita “mengundurkan diri” para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya.
Contoh lain adalah antri….ditempat manapunyang membutuhkan antrian maka orang jepang secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan. Bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
antri

4. Bersih, teratur dan rapi
Saat pertama kali kesan yang aku lihat walaupun dikota-kota besar, kotanya sangat bersih dan alangkah nikmatnya bila kita berjalan jalan (hampir diseluruh wilayah jepang). Begitu nyaman, bersih dan tertata dengan rapi. Masyarakat jepang sudah terbiasa dengan membuang sampah ditempatnya, bahkan sudah biasa memisahkan antara sampah yang dapat di bakar, sampah dapur, atau sampah lainnya sudah tertata dengan rapih, bahkan berbeda sampah berbeda pula hari dan jadwal membuangnya.
Nagoya Eki Station

5. Hidup Hemat
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumtif berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 20.00 karena leatk apartemen saya sangat dekat dengan kampus dan supermarket jadi sangat jelas kondisi tersebut. Ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai 50 % pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup.
Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat penggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Saya sendiri awalnya akan beli mobil tapi setelah saya pikir lebih nyaman dan tidak repot menggunakan transportasi umum seperti kereta (densha/chikatetsu). Hal lain yang menyolok adalah banyak Professor Jepang yang terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.

6. Inovasi
Sudah tidak butuh penjelasan lagi tentang yang satu i ni. Bisa dilihat kendaraan yang beredar di Indonesia merupakan hasil karya Jepang. Sebenarnya Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar.

7. Pantang Menyerah
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30 % wilayah Jepang akan gelap gulita.

8. Budaya baca
Ini sangat kontra sekali dengan kebiasaan kita. Bila kita naik densha (kereta), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik gambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

Sebagai anak negeri yang baru menimba ilmu di negeri ini, saya yakin bahwa bangsa kita mampu untuk merubah mengejar negara Jepang bila kita mempuntai tekat yang kuat untuk berubah menuju yang lebih baik!

Salam,

Munadi A

2 responses to “Yang Membuat Jepang Berbeda Dengan Negara Kita

  1. thaks to infonya….
    - bagaimana dengan karakter remaja atau mahasisiwa jepang sendiri dalam study, perkuliahan?
    - lalu bagaimana semangat belajar mereka dalam mencapai cita2?
    - apa saja persyaratan akademik (apa saja syarat pasti yang umum) untuk kuliah di jepang?
    mohon dijawab ya….thanks a lot :)

    • Sama-sama …
      Secara singkat sbg berikut :
      - Mayoritas mhs hanya berorientasi pada study n ekstrakurikuler, sangat jarang sekali yang interest ke kegiatan berbau politik. Perkuliahan unt s1 bayak prakteknya n teori. S2 porsi teoritis meningkat dan s3 full pengembangan teori.
      - Tak mengenal waktu…lab (kampus) hidup selama 24 jam. Mereka lebih banyak wkt di kampus drpd di rmh or main. Oh ya sblm lls s1 (thn 3 dari 4 thn), mereka biasanya sudah mendapat tempat pekerjaan nantinya jika sudah lls.
      - Klo s1/s2 sy sarankan bhs jepang selain Toefl. Dan yang jelas IP S1 kalau mau lanjut S2 disini.
      Dicoba applay saja….Gambate!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s